Social Icons

2 Juni 2013

RASIONALISME PANCASILA









Rasionalisme yang dipelopori oleh Rene Descartes  – Bapak Filsafat Modern – pada abad-17 dan kemudian makin dikembangkan oleh Baruch Spinoza, Leibzniz dan tokoh-tokoh filsafat modern lainnya,  pada dasarnya adalah suatu rasionalisme murni.  Rasionalisme yang digelindingkan oleh Descartes mendobrak pemikiran-pemikiran kolot pada zamannya, dan memberi dampak luar biasa dalam bidang pemikiran. 

Tidak hanya dalam memajukan filsafat,  namun juga mendorong  penemuan-penemuan baru ilmu pengetahuan dan teknologi.    Dan berkat optimisme  terhadap kemampuan akal pikiran,  Iptek di dunia Barat berkembang pesat.   Dunia Barat menjadi pusat kemajuan dunia,  yang  akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Rasionalisme murni memberi  bobot yang berlebih-lebihan terhadap pengembangan kemampuan akal pikiran,  sedangkan potensi lain yang dimiliki manusia yaitu rasa hati atau budi nurani,  boleh dikatakan kurang mendapat perhatian atau diabaikan.  Hal ini mendorong pemikir muda yang muncul tidak lama setelah Descartes meninggal, yaitu Blaise Pascal ( 1623 – 1662, menyampaikan gagasan-gagasannya.

Menurut Pascal, pengetahuan berdasarkan akal pikiran hanya salah satu sumber ilmu pengetahuan.  Ada sumber lain yang lebih penting, yaitu pengetahuan intuitif.  Tentang hal ini sudah ditulis dalam artikel post sebelumnya, berjudul Rene Descartes, Blaise Pascal, dan Imam Al-Ghazali.

Blaise Pascal menyatakan bahwa pengembangan kemampuan akal pikiran saja tidak akan pernah bisa memecahkan problem-problem kemanusiaan.  Problem kemanusiaan teratasi hanya berkat rahmat Tuhan.  Apa yang disampaikan oleh Blaise Pascal tersebut banyak terbukti kebenarannya di kemudian hari, khususnya pada abad-20 dan sampai sekarang ini decade pertama abad-21.

Berkat pengembangan rasionalisme murni, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat.  Dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  digunakan oleh manusia untuk meningkatkan harkat dan martabat kehidupan, serta kesejahteraannya,  sehingga terwujud kehidupan modern seperti sekarang ini.  

Di balik kegermelapan dan kemegahan kehidupan modern,  di mana pada satu sisi mengandung suatu harapan bagi kehidupan manusia di masa depan yang lebih baik : damai dan sejahtera,  namun pada sisi lain mengundang kecemasan berupa dampak-dampak yang ditimbulkannya. Dampak tersebut lambat laun tampak semakin jelas gejala / fenomenanya berupa berbagai macam bencana, penyakit,  dan juga ….perang,  baik perang yang terjadi antar negara maupun perang saudara !


Manusia modern sekarang ini boleh dikatakan berada dalam suatu kehidupan yang selalu dibayangi oleh ancaman bahaya yang sewaktu-waktu bisa menimpa diri dan keluarganya, baik ancaman bahaya berupa gempa bumi,  tanah longsor, tsunami, banjir, puting beliung sampai heavy storm semacam Noel, Tornado dan sebagainya. 


Serta ancaman bahaya berupa lingkungan kehidupan yang tidak sehat di luar rumah maupun di dalam rumah.  Hal ini terutama disebabkan oleh polusi udara akibat banyaknya pemakaian bahan-bahan kimia dan bahan bakar,  serta eksposur gas Radon ( karsinogenik klas I ) yang berasal dari retakan batu Granit yang digunakan dalam bangunan-bangunan megah baik  berupa rumah tempat tinggal,  perkantoran,  hotel, pasar swalayan modern, rumah sakit, dsbnya ( dan yang berasal dari remukan batu granit yang digunakan dalam peralatan tenaga surya ).   Semua bangunan megah yang mengandung granit pada dasarnya adalah ' bom waktu ' bagi generasi mendatang !*)

Disamping itu ada bahaya berupa radiasi gelombang elekromagnet yang berasal dari peralatan elektronik yang digunakan sehari-hari dalam rumah tangga.  

The Little-Known Dangers of EMF

Demikian juga bahaya radiasi dari listrik tegangan tinggi, pemancar radio / televisi, maupun radiasi dari sinar matahari dan inteferensinya dengan nuclide radioaktif setempat ( radiasi bumi ), serta interferensi radiasi bumi dengan angin Fohn / Fohn wind di kawasan negara tertentu yang terdapat fenomena angin Fohn. 

FOEHN WIND

Semuanya itu sampai saat ini  belum dapat diungkap oleh sains modern. Sains modern berkaitan dengan ilmu penyakit khususnya,  sudah lama terjebak dalam dogma virologi dan bakteriologi yang disebabkan oleh miskonsepsi  yang berasal dari hasil percobaan  ' tabung leher angsa ' Louis Pasteur, abad-19,  yang diyakini telah menggugurkan konsep spontaneous generation-nya Aristoteles. Padahal yang digugurkan oleh Louis Pasteur adalah hipotesa spontaneous generation-nya Charles Darwin. 

Spontaneous generation yang dicetuskan oleh Aristoteles,  berbeda dengan spontaneous generation yang digunakan sebagai dasar teori evolusinya Charles Darwin.  Aristoteles mengajarkan bahwa makhluk hidup berupa binatang seperti ulat dan binatang kecil lainnya bisa muncul secara spontan dari benda mati disebabkan karena adanya ' gaya hidup ' ( energi ketuhanan ).  Intinya, Aristoteles percaya adanya Tuhan dan Tuhan berkuasa menciptakan makluk hidup lengkap dengan organ sempurna sesuai wujudnya, dari benda-benda mati.  Berbeda dengan spontaneous generation versi Darwin yang berpendapat bahwa kehidupan berasal dari sel tunggal yang muncul dengan tiba-tiba di bumi tanpa adanya peran Tuhan.

Tuhan Maha Pemurah dan tidak jemu-jemunya mengingatkan manusia agar tidak sombong dan berlebih-lebihan dengan kemajuan penggunaan akalnya - sains - dan lalu melupakan Tuhannya.  Berbagai peringatan yang disampaikan antara lain berupa hujan ikan, hujan katak, hujan darah di berbagai kawasan di dunia.  Di negara Indonesia sendiri pada tahun 2011 ramai diberitakan terjadinya " hujan Ulat Bulu " ( maksudnya, wabah Ulat Bulu yang secara serentak dan " dalam tempo yang sesingkat-singkatnya " menyerang berbagai kota di wilayah Indonesia ! ).  Sains modern tidak mampu membuktikan secara meyakinkan penyebab fenomena-fenomena  tersebut.

Disamping itu,  ilmu kedokteran modern sekarang ini banyak mengabaikan pengaruh dari  faktor lingkungan / environment!.  

Padahal ada banyak fakta beberapa jenis penyakit tertentu hanya terdapat di kawasan tertentu misalnya di suatu pulau kecil tertentu ,  dan tidak menyebar ke daerah lain / pulau lain.  Ada banyak fakta jenis obat tertentu efektif digunakan di suatu negara, tapi tidak efektif digunakan di negara lain.  Ada banyak fakta seseorang dinyatakan HIV positif di suatu negara, tapi diperiksa dengan methode yang sama di negara lain ternyata hasilnya negatif.  Ada banyak fakta penyakit flu musiman menimbulkan korban jiwa yang sangat besar di suatu negara setiap tahunnya, tetapi relatif tidak menimbulkan korban jiwa di negara lain.  Ada banyak fakta jenis / tipe virus tertentu, misalnya HIV,  itu berbeda-beda tipenya di kawasan dunia satu dan lainnya.  HIV di kawasan Afrika berbeda tipenya dengan HIV di Amerika Serikat atau di Asia Tenggara.  Tidak jauh-jauh, HIV di tanah Papua berbeda tipenya dengan HIV di pulau Bali atau HIV di wilayah DKI.Jakarta.  Mengapa bisa terjadi perbedaan-perbedaan tersebut ?

ISLAND DISEASE  

Patut diduga, penyebabnya adalah environment factor, tidak lain adalah nuklid radioaktif setempat atau radiasi bumi ( earth radiation ).  Dan sepertinya soal earth radiation ini belum banyak diteliti, misalnya sampai sejauh mana pengaruhnya terhadap biologis,  dan apakah ada hubungannya dengan kekebalan ras ( Ras Immunity ) dan kekebalan spesies ( Species Immunity ).

Bukan tidak mungkin, misalnya, penyakit Morbus Hansen yang dahulu dikenal sebagai penyakit Kusta atau Lepra,  dan dalam ilmu penyakit dikatakan penyebabnya adalah bakteri Mycobacterium leprae ( exogenous ) - dan sampai sekarang belum diketahui secara jelas cara penularannya -   penyebab sesungguhnya atau asal-usul bakterinya adalah : Radiasi Bumi / Nuklid Radioaktif setempat,  mengingat bahwa pengaruh radiasi yang berlangsung lama dan kontinyu memberikan dampak nyata terhadap tubuh manusia, dapat menimbulkan kerusakan sel-sel kulit ( endogenous bactery ).  Bakteri yang dikatakan sebagai penyebab penyakit Hansen itu tercipta atau berasal dari sel-sel tubuh yang rusak ,  bukan " makhluk angkasa luar " yang menyelinap masuk ke dalam tubuh manusia !

Demikian juga,  semua jenis virus yang dikenal sebagai penyebab penyakit berasal dari sel-sel tubuh yang rusak.  Dengan kata lain,  asal-usul virus ( origin of viruses ) itu juga bukan dari luar ( exogenous ),  melainkan dari dalam tubuh penderita.  Virus bukan penyebab penyakit,  melainkan produk dari sel-sel tubuh yang rusak yang disebabkan oleh beberapa faktor penyebab antara lain stres oksidatif, over-produksi ozon, dan radiasi.  

Miskonsepsi dalam viral disease sebenarnya telah mengakibatkan bagi kemanusiaan,  jauh lebih besar dari korban meninggal akibat terjadinya perang.  Namun hal ini kurang mendapat perhatian.  




Data statistik negara Amerika Serikat memperlihatkan bahwa dalam abad-20 - kurun waktu 100 tahun -  jumlah korban meninggal akibat terjadinya perang yang dilakukan oleh negaranya,  tidak lebih dari 7 % dibandingkan jumlah korban meninggal dari warga negaranya yang disebabkan karena penyakit infeksi ! ( Data pernah dimuat di The Scientist th.2008 - Community - sekarang sudah tidak bisa diakses )

Oleh karenanya walaupun sekarang ini dikatakan sebagai zaman modern di mana ilmu pengetahuan dan teknologi maju pesat, namun tetap saja banyak problem-problem kemanusiaan yang belum terpecahkan, dan dikenal pula masih banyak jenis-jenis penyakit yang termasuk kategori : '  mysterious diseases  '.



                                                                    ***


Belum lagi ancaman bahaya yang timbul dari penerapan sistem ekonomi dunia, globalisasi ekonomi dan pasar bebas, yang dalam banyak hal sangat merugikan bagi negara miskin dan rakyat kecil …………

Sains modern belum berhasil – kalau tidak boleh dikatakan bahwa sesungguhnya sains modern telah gagal – dalam mengatasi problem-problem kehidupan manusia.  Dalam banyak hal, karena menonjolkan kemampuan akal pikiran semata dan mengabaikan intuisi atau rasa hati, maka solusi-solusi yang ditemukan berupa cara-cara pemecahan masalah yang semula diyakini sebagai cara yang paling baik dan benar, namun terbukti di kemudian hari cara-cara yang dilakukan itu ternyata keliru / miskonsepsi.

Banyak contoh-contohnya, antara lain solusi yang diterapkan dalam mengatasi kekurangan pangan dengan cara melakukan rekayasa genetika tanaman pangan.  Lahirnya memang cara tersebut menghasilkan produk lebih cepat dan berlimpah, bisa memenuhi kebutuhan pangan.  Namun apa dampak dari teknologi tersebut bagi keserasian dan keseimbangan alam serta bagi kehidupan manusia ? Dan apa dampak terhadap kesehatan jasmani dan rokhani manusia yang tiap hari mengkonsumsi GMO's food ?

Sains belum mampu mengungkapnya, namun intuisi atau rasa hati  merasakan bahwa teknologi tersebut mencerminkan sikap tidak hormat kepada alam dan ‘ memperkosa makhluk hidup ‘ ( tanaman termasuk makhluk hidup ) dengan semena-mena.  Dan hal itu juga berarti - tanpa disadari - telah berbuat semena-mena terhadap diri sendiri.  

Falsafah Indonesia / Jawa mengajarkan : " Aja Dumeh Iso " ( Jangan mentang-mentang bisa / mampu melakukannya ).  By common sense, jika apa yang dimakan oleh manusia adalah bahan-bahan bukan alami - gen diubah atau dimodifikasi, demikian pula ukurannya - maka output dan outcomenya adalah sesuatu yang tidak seimbang pula, jasmani maupun rokhaninya.  Singkat kata,  Garbage In Garbage Out.    

Dan hukum sebab-akibat pasti berlakunya :  Tornadoes Strike Oklahoma Again !


Banyak tokoh, ulama dan ilmuwan yang menolak rekayasa genetika tanaman. Bahkan pada tahun 2000 pemimpin Gereja Katholik Paus John Paul II berbicara dihadapan sekitar 50.000 petani Italia mengingatkan mereka dan juga para petani di dunia agar bersikap hormat kepada alam :  “  When farmers forget this basic principle and become tyrants of the earth rather than its custodians ….sooner or later the earth rebels “  (   The Earth  Rebels ).


Contoh dan fakta " The Earth Rebels " seperti yang dimaksud dan diingatkan oleh Pope John Paul II.
Typhoon Haiyan 9 November 2013 menyerang dua titik kawasan dunia di mana di situ diketahui adalah kawasan pengembangan Rekayasa Genetika Tanaman secara besar-besaran. Alam bereaksi untuk mengembalikan Keseimbangan Alam di dua kawasan itu.  Korban tewas akibat Haiyan bisa mencapai puluhan ribu orang.  Lagi-lagi Tragedi Kemanusiaan akibat perilaku segelintir manusia yang menggunakan sains yang dimilikinya untuk memperkosa alam.


Dengan demikian apa-apa yang pernah disampaikan oleh Blaise Pascal pada abad-17, atau prediksi dari falsafahnya telah terbukti kebenarannya.  Pengembangan akal pikiran semata tidak mampu memecahkan problem-problem kemanusiaan.




***


Dalam rangka menangkal dampak merugikan dari kemajuan Iptek dan dampak dari globalisasi ekonomi, beberapa dekade menjelang akhir abad-20  negara Indonesia sebenarnya telah mengembangkan suatu konsep yang berhubungan dengan dasar falsafah bangsa : Pancasila.  Pancasila dikembangkan dalam suatu bingkai  ideologi yang disebut Ideologi Terbuka.  

Dan sebagai suatu Ideologi Terbuka,  Pancasila memiliki nilai-nilai yang dikategorikan dalam tiga istilah, yaitu Nilai Dasar, Nilai Instrumental, dan Nilai Praksis.  Nilai Instrumental dan Nilai Praksis bisa berubah seiring dengan perjalanan waktu dan sesuai dengan tuntutan zaman,  namun Nilai Dasar yang mengandung nilai-nilai fundamental dari ke-5 sila dari Pancasila, tidak boleh berubah.  Nilai Dasar berfungsi sebagi filter utama dan tolok ukur bagi setiap langkah kebijakan yang diambil dalam melaksanakan pembangunan bangsa.

Sebagai falsafah dan ideology negara,  Pancasila bertitik-tolak dari sikap hormat kepada alam dan makhluk hidup sesuai ajaran agama,  dan sesuai dengan prinsip-prinsip keseimbangan alam, yakni suatu keserasian, keselarasan, dan keseimbangan. Baik dalam hubungan antara jasmani dengan  rokhani, lahir dengan batin, maupun hubungan antara manusia dengan masyarakat, manusia dengan alam lingkungannya, serta manusia dengan Tuhan.  Pancasila mengajarkan,  manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial,  dan oleh karenanya kebebasan sebagai individu ada batas-batasnya sesuai norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kehidupannya.

Dalam hubungan antara jasmani dengan rokhani, falsafah Pancasila melahirkan konsep Cipta – Rasa – dan Karsa.  Yang dimaksud dengan Cipta adalah akal pikiran,  Rasa adalah budi nurani, sedangkan Karsa adalah kehendak / keinginan. Setiap kehendak apapun juga yang timbul dalam diri seorang manusia, tidak lepas dari adanya rasa dan pikiran.

Prinsip-prinsip keseimbangan alam tersebut di atas yang menjiwai pengembangan Pancasila secara konseptual menjadi ideologi  terbuka, yang pada dasarnya adalah suatu upaya dalam rangka meningkatkan pembudayaan dan  pengamalan Pancasila.

Bertitik-tolak dari prinsip-prinsip keseimbangan alam tersebut, maka rasionalisme yang dikehendaki dalam pengamalan Pancasila adalah rasionalisme yang serasi, selaras, dan seimbang.  Maksudnya, suatu rasionalisme yang mengandung optimisme terhadap kemampuan akal pikiran, namun dengan tetap menyadari bahwa kemampuan akal pikiran ada batas-batasnya, sehingga pada kondisi tertentu diperlukan loncatan ke iman, mengingat bahwa iman itulah yang membangkitkan rasa hati untuk mempertimbangkan baik-buruknya sesuatu hal yang direncanakan oleh akal pikiran.

Rasionalisme Pancasila yang bertitik-tolak dari prinsip-prinsip keserasian, keselarasan dan keseimbangan juga berarti suatu rasionalisme yang tidak berat sebelah, yakni suatu rasionalisme yang memberi bobot seimbang antara akal pikiran dengan budi nurani.   Berbeda dengan rasionalisme dalam pengertian filsafat yang disuarakan oleh Rene Descartes.  Oleh sebab itu kata-kata Descartes yang terkenal : “ Cogito ergo sum “ atau “ Saya berpikir, maka saya ada “, dibaca dengan kacamata Pancasila yang mengandung falsafah Cipta – Rasa – dan Karsa perlu dimaknai menjadi “ Saya berpikir dan merasakan, maka saya ada “.

“ Saya berpikir “, berarti Cipta. “ Saya merasakan “ berarti Rasa. Dan “ Saya ada ( serta berkehendak “ berarti Karsa.

Rasionalisme Pancasila, yakni adanya keseimbangan antara Cipta, Rasa, dan Karsa, pada dasarnya memang tidak mudah untuk dilaksanakan.  Namun di situlah terletak tantangan yang perlu diatasi, mengingat bahwa dengan menggunakan akal pikiran semata manusia tidak mampu mengatasi paradoks-paradoks eksistensi hidup kemanusiaan.


*)  Tuhan Maha Pemurah,  untuk keperluan bahan-bahan bangunan bagi manusia telah disediakan bahan-bahannya baik berupa bebatuan atau pasir, yaitu bahan-bahan yang berasal dari ' muntahan '/letusan gunung berapi,  contohnya antara lain batuan jenis andesit seperti yang digunakan oleh nenek moyang manusia untuk membangun candi-candi (al : Borobudur, Prambanan ).  Bangunan dari bahan-bahan tersebut tidak menimbulkan ' bom waktu ' bagi generasi anak cucu...........

_______________


Baruch Spinoza adalah filsuf Yahudi pada abad-17 sezaman dengan Rene Descartes.  Filsafat Spinoza dikenal dengan sebutan Pantheism.  Berbeda dengan filsafat Pantheisme yang terdapat di ajaran agama ( Istilah Jawa " Manunggaling Kawulo Gusti ).  Pantheisme dalam ajaran agama bersumber dari kitab suci / wahyu Illahi,  sedangkan Pantheism Spinoza adalah pengakuan adanya Tuhan yang disebut dengan istilah Supreme Intelligence,  berdasarkan akal pikiran semata.

Filsafat Spinoza mendorong lahirnya faham Deism.  Albert Einstein dalam salah satu surat yang ditulisnya pada tahun 1954 mengakui bahwa ia adalah penganut filsafat Spinoza / Deisme.





 
Blogger Templates