Social Icons

7 Agustus 2014

MUTIARA TERPENDAM : STRATEGI MARITIM BANGSA BAHARI NUSANTARA ( 1 )


New Release Printable Edition-2


Kindle eBook  :






Sejarah bangsa Indonesia periode abad 16 – abad 17 adalah masa-masa perlawanan terhadap bangsa asing / Eropa Barat yang berusaha menguasai pusat-pusat perdagangan di Nusantara, merupakan awal dari masa penjajahan bangsa Nusantara oleh bangsa asing. Pada masa perlawanan tersebut apabila dicermati, kita bisa menemukan strategi, taktik, atau ilmu perang yang dipraktekkan oleh para pahlawan bangsa.  Strategi, taktik, atau ilmu perang yang dipraktekkan pada masa itu ibarat mutiara terpendam, dan sudah selayaknya kita gali dan kita ungkapkan kebenarannya.


Di zaman modern ini, kita banyak belajar tentang ilmu perang dari bangsa-bangsa maju di dunia.  Kita mengagumi strategi, taktik, dan ilmu perang mereka.  Dan mungkin banyak yang tidak menyadari, bahwa sesungguhnya banyak istilah dan pengertian dari strategi modern sekarang ini – khususnya menyangkut perang laut / strategi maritim –  sudah dipraktekkan oleh para pendahulu kita, baik ketika melakukan perlawanan terhadap bangsa asing maupun ketika terjadi perang antar kerajaan.  Misalnya istilah-istilah :penggunaan laut ( Use the Sea ), mencegah penggunaan laut oleh lawan ( Sea Denial ), pengendalian Laut ( Sea Control ), penguasaan laut ( Sea Command ),  proyeksi kekuatan ( Power Projection/ Naval Projection ), armada siaga ( Fleet in Being ), semuanya itu sudah dipraktekkan oleh bangsa bahari Nusantara. Bahkan mungkin kita akan terkejut dan kagum, karena patut diduga ada di antara strategi ilmu perang laut modern itu yang aslinya berasal dari ilmu perangnya nenek-moyang kita !

Sebelum membahas lebih lanjut tentang mutiara terpendam tersebut, sebaiknya diketahui terlebih dahulu keadaan bangsa-bangsa di Eropa Barat pada masa itu, sehingga mereka sampai datang ke perairan Nusantara.


Abad 16 – 17 adalah masa kejayaan maritim bangsa-bangsa di Eropa Barat, yang kebangkitannya berawal sejak abad-11. Pada masa-masa tersebut sering terjadi perang besar antara bangsa-bangsa di Eropa Barat, antara lain Perang Seratus Tahun  The Hundred Years War ),      antara Inggris melawan Perancis yang terjadi pada pertengahan abad-14 sampai pertengahan abad-15. Selama seratus tahun atau satu abad berperang,  berbagai pertempuran laut sering terjadi antara ke dua pihak,  diselingi dengan perdamaian dan gencatan senjata,  yang lalu berkobar lagi diawali dengan pengepungan dan pengrusakan armada,  dan kemenangan serta kekalahan silih berganti antara ke duanya.

Sumber persengketaan,  selain persaingan dalam perdagangan dan perebutan pengaruh di kawasan Eropa,  juga menyangkut perebutan daerah Aquitaine yang terletak di wilayah Barat Daya negara Perancis yang diklaim oleh Inggris sebagai daerah dalam kekuasaannya.
Setelah satu abad berperang,  pada akhirnya  di tahun 1453 peperangan dimenangkan oleh Perancis. 

Kemudian pada tahun 1588 terjadi perang laut besar antara kerajaan Inggris melawan kerajaan Spanyol.  Waktu itu kerajaan Inggris di bawah pemerintahan Ratu Elizabeth I, dan    Inggris sudah berkembang menjadi negara maritim yang disegani di Eropa.     Namun Kekuatan Maritimnya masih kalah dibandingkan dengan negara Spanyol,  yang ketika itu di bawah pemerintahan Raja Philip. 

Dan dalam persaingan perdagangan,  segala cara ditempuh untuk mengalahkan saingannya. Di masa itu belum ada aturan baku dalam dunia pelayaran.   Dua kapal yang masing-masing berasal dari dua negara yang bermusuhan,  dan bertemu di tengah laut,  bisa terjadi pertempuran,  saling merampas,  membajak,  atau merusak.    Dikenal nama-nama seperti Francis Drake dan kawan-kawannya.   Mereka sering membajak kapal-kapal dagang Spanyol,  terutama yang mengangkut emas dan perak,  di Samudera Atlantik dan di laut sekitar Amerika Selatan.  

Sebagian hasilnya ternyata disetorkan ke kas kerajaan,   dan Ratu Elizabeth I terkesan mendukung kegiatan mereka itu.     Francis Drake dan kawan-kawannya bahkan mendapat anugerah gelar kebangsawanan.    Hal ini menimbulkan kemarahan raja Spanyol,  Philip.   Sehingga  Raja Philip langsung memerintahkan  kekuatan armada  perangnya yang terdiri dari 131 kapal untuk menyerang dan menaklukkan Inggris.

Kekuatan armada Spanyol yang besar  tersebut dihadapi oleh armada Inggris yang lebih kecil.    Armada  tempur Inggris mendapat bantuan dari kapal-kapal bajak lautnya,    dan dengan berbagai taktik berusaha mencerai-beraikan formasi kapal-kapal lawannya.   Kapal-kapal Spanyol yang terpisah dari formasi induknya diserang oleh armada Inggris,  dirusak dan ditenggelamkan. Pertempuran terjadi di Selat Channel selama 10 hari.   Armada Spanyol dibuat menjadi kocar-kacir,  dan banyak yang menghindari keganasan kapal-kapal bajak laut Inggris.     Sebagian kapal-kapal Spanyol  bermaksud kembali ke negerinya,  dan mereka memilih jalan memutar ke Utara mengitari kepulauan Britania.   Namun sebagian besar kapal-kapal Spanyol itu diserang badai di Laut Utara,  dan banyak yang tenggelam.  

Pada masa sesudahnya,  abad-17 dan abad-18, masih sering terjadi peperangan di antara bangsa-bangsa di Eropa Barat.  Sumber permasalahan atau faktor penyebabnya sama dengan peperangan-peperangan yang terjadi di abad-abad sebelumnya,  berkisar pada tiga permasalahan :  persaingan perdagangan lewat laut, perebutan daerah koloni,  dan perebutan pengaruh di laut pada jalur-jalur perdagangan mereka dan di daerah koloni.  Pada akhir abad-17 terjadi peperangan antara Inggris melawan Belanda, dan pada abad-18 Inggris berperang lagi melawan Perancis.  Dua peperangan ini yang mengilhami Alfred Thayer Mahan menulis bukunya : “ The Influence Of Sea Power Upon History 1660  -  1783  ” . 

Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1890. Berisi gagasan besar A.T Mahan yang kemudian lebih dikenal sebagai Teori Sea Power.  Ajaran-ajaran dari Alfred Thayer Mahan inilah terutama yang dipraktekkan betul oleh Amerika Serikat sehingga berhasil membangun bangsa dan negaranya menjadi bangsa modern dan maju di dunia.   Berkat Maritime Power yang berhasil dibangunnya,  Amerika Serikat tumbuh menjadi superpower di dunia.   

Dewasa ini, pada awal abad-21 ada semacam penilaian atau kekhawatiran para strategyc thinker Amerika Serikat,  bahwa AS secara tidak disadari sudah mulai melupakan ajaran-ajaran AT.Mahan,  namun justru Tiongkok sedang berusaha menerapkan ajaran AT.Mahan dengan sungguh-sungguh.

WELCOME  2015


Strategi Power Projection Pate Unus dan Sea Command Sultan Agung.

Beberapa negara Eropa Barat yang  berniaga sampai kawasan Nusantara :   Portugis,   Spanyol,  Belanda,  dan Inggris.     Niatnya semula adalah berdagang,  yaitu terutama mencari rempah-rempah dan lada ,  yang banyak dihasilkan di Maluku dan juga Pulau Jawa,   sebagai komuditi yang banyak memberikan keuntungan di pasaran Eropa.

Niat berdagang tersebut berkembang menjadi keinginan untuk menguasai dan monopoli perdagangan.    Strategi yang mereka terapkan adalah praktek yang biasa dilakukan di Eropa saat itu  :   kerjasama dengan penguasa setempat untuk mendirikan benteng dan pangkalan bagi kapal-kapal niaganya.   Dan jika kerjasama sulit diwujudkan,  mereka tidak segan-segan untuk menyerang dan merebut pangkalan penting,  serta menghancurkan perdagangan lawan.    Contohnya,   pada tahun 1511 Portugis menyerang dan merebut Malaka yang waktu itu merupakan Pusat Perdagangan di kawasan  Asia Tenggara.

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menimbulkan perlawanan dari kerajaan-kerajaan Nusantara,  antara lain  :   Kampar,  Pasai dan Demak.    Penguasa kesultanan Demak sempat dua kali mengirim ekspedisi  untuk merebut kembali Malaka.    Ekspedisi pertama pada tahun 1511,  dan ke dua tahun 1512,  dengan mengerahkan sebanyak 12.000 prajurit angkatan laut,   dipimpin oleh oleh  Pate Unus.     

Ekspedisi Pate Unus ke Malaka tersebut merupakan satu bentuk dari Strategi Maritim    Proyeksi Kekuatan  “,  atau     Power Projection  “.      Pasukan pimpinan Pate Unus tidak berhasil merebut kembali Malaka,  sebabnya ialah karena bantuan yang semula diharapkan datang dari Melayu,  ternyata tidak muncul,  kemungkinan sudah berhasil dirangkul oleh pihak Portugis. Hal ini sesuai dengan teori tentang proyeksi kekuatan yang masih berlaku sampai sekarang, bahwa pelaksanaan strategi itu harus didahului dengan kegiatan subversif untuk membentuk pasukan perlawanan di wilayah daratan musuh.  Contohnya proyeksi kekuatan yang direncanakan AS dan pasukan sekutunya dalam Perang Teluk tahun 1991, rencana yang sudah dipersiapkan dengan baik terpaksa dibatalkan, sebabnya ialah karena kegiatan subversif tidak berhasil membentuk kekuatan perlawanan.

Strategi Proyeksi Kekuatan dilakukan pula oleh Sultan Agung ,  kerajaan Mataram,   dalam rangka memperluas kekuasaannya ketika berusaha menaklukkan Surabaya (  1622 – 1625 ).    Sultan Agung tidak langsung menyerang Surabaya,  melainkan berusaha menaklukkan terlebih dulu pangkalan-pangkalan pendukung perdagangan Surabaya  :   Sukadana dan Madura. Ekspedisi ke Sukadana dikirim pada tahun 1622 dengan kekuatan 70 kapal dan 2000 prajurit,  sedangkan ekspedisi ke Madura dilakukan pada tahun 1624.

Keberhasilan Sultan Agung menaklukkan Sukadana dan Surabaya memberi pengaruh penguasaan terhadap Laut Jawa – Use the Sea, Sea Command, dan Sea Control – namun tidak berhasil mencegah pengunaan laut – Sea Denial – terhadap jalur pelayaran dari Maluku dan Makasar lewat Laut Flores kemudian jalur pelayaran di sebelah Timur dan Selatan pulau Madura, sehingga Surabaya belum bisa ditaklukkan.

Surabaya baru berhasil ditaklukkan pada tahun 1625,  setelah Sultan Agung menggabungkan strategi perang laut dengan perang darat,  yaitu mengepung Surabaya dan memutuskan hubungannya dengan daerah pedalaman.  Seni Perang Darat yang yang dimainkan oleh Sultan Agung,  adalah dengan cara membendung Sungai Brantas dan membelokkan aliran sungai ke jurusan lain,  untuk menghentikan aliran sungai ke Surabaya.


Strategi Maritim yang diterapkan oleh Sultan Agung merupakan contoh yang baik dari penerapan strategi sesuai prinsip-prinsip Strategi Maritim yang diajarkan oleh  Sir Julian Corbett,  seorang sejarawan Inggris / Royal Navy, terkenal dengan buku yang diterbitkan pada tahun 1911 berjudul Some Principle of Maritime Strategy  :

“  By maritime strategy we mean the principles  which govern  a war in which the sea is a substantial factors.   Naval Strategy is but that part of it which determines the movements of the fleet when maritime strategy has determined.

What part the fleet must play in relation to the action of the land forces;  for it scarcely needs saying that it is almost impossible that a war can be decided by Naval action alone.
The paramount concern,  then, of Maritime Strategy is to determine the mutual relations of your Army and Navy  in  a plan of  War.    When this is done,  and not till then,  Naval Strategy can begin to work out the manner in which the fleet can best discharge the function assigned to it.   “   (  Sir Julian Stafford Corbett,  Some Principle of Maritime Strategy,   1911  ).










Borobudur, 2 Januari 2015

Relief Kapal Layar di Candi Borobudur





Share


 
Blogger Templates